PALONTARAQ.COM – Palapa Ring merupakan proyek pembangunan serat optik yang mejangkau hampir seluruh wilayah Tanah Air. Proyek yang dimulai pada 2015 itu akan mengakomodir jaringan serat optik nasional baik darat maupun laut, yang menjangkau 34 provinsi dan 440 kota/kabupaten di Indonesia.

Proyek Palapa Ring terbagi dalam tiga paket, yaitu Paket Barat, Tengah dan Timur dengan serat optik sepanjang 36.000 km. Palapa Ring Barat akan menjangkau wilayah di Sumatera dan Kalimantan dengan jaringan kabel serat optik sepanjang 1.980 km.

Palapa Ring Tengah akan menjangkau wilayah Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara (sampai Kepulauan Sangihe-Talaud) dengan total panjang kabel serat optik sekitar 2.647 km. Sementara itu, Palapa Ring Timur menjangkau wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Papua Barat, dan Papua (sampai pedalaman Papua) dengan total panjang kabel serat optik sekitar 8.454 km.

Lihat juga: Menyoal Kontroversi Istilah “Infrastuktur Langit”

Sejauh ini, beberapa paket dari proyek itu telah rampung. Kemenkominfo bahkan telah meresmikan tarif Palapa Ring Paket Barat. Paket Tengah juga telah rampung dibangun. Sementara Palapa Ring Paket Timur masih dalam proses pembangunan, dan ditargetkan rampung pada kuartal dua tahun ini.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan, proyek pembangunan Palapa Ring bagian timur akan rampung pada Juni 2019 mendatang. “Nah, ini progresnya 91 persen hari ini. Insya Allah kuartal kedua ini mudah-mudahan tidak lebih dari bulan Mei atau Juni, konstruksi selesai sehingga pertengahan tahun diintegrasikan keseluruhannya,” kata Rudiantara, saat kepada Pers di Gedung Sate, Jawa Barat, 22 Februari lalu.

Menkominfo Rudiantara menuturkan, kendala peroyek kabel fiber optik di wilayah timur disebabkan medan yang berat. Saat ini, total panjang kabel fiber optik yang sudah dipasang mencapai 8.000 km untuk laut dan 4.000 km untuk darat.

Khusus di wilayah timur, ada penambahan perangkat yang dinamai microwave yang dipasang di area pegunungan. “Jayapura, Merauke, Pulau Aru semua fiber optic laut dan darat. Total panjang fiber optic laut 8.000 km, daratnya 4.000 km. Ditambah microwave karena kalau dari darat tidak bisa ditarik, kan harus microwave di pegunungan Papua,” ungkap Rudiantara

“Di wilayah timur tantangannya paling tinggi. Di Papua Barat saja, ada 41 kabupaten yang dibangun. Dan itu kan pegunungan, enggak bisa narik kabel lewat gunung. Jadi, harus pakai microwave. Microwave pun tidak bisa dibawa jalan darat, tapi pakai helikopter,” tambah dia. Proyek Palapa Ring menggunakan skema kerja sama pemerintah badan usaha (KPBU). Ia mengatakan, untuk wilayah barat dan timur dikerjakan oleh pihak swasta.

“Jadi, ini konsepnya bukan pemerintah yang membangun dan mengoperasikan. Tapi distruktur dengan skema KPBU. Jadi, pemerintah tidak mengeluarkan uang. Tetapi nilai ability payment yang harus dibayarkan itu mungkin mendekati Rp 21 triliun dalam jangka waktu 15 tahun,” ujarnya seraya berharap paling lambat Proyek Palapa Ring ini selesai sampai Agustus 2019 mendatang. (*)