MAKASSAR, Palontaraq.com – Relawan Pendidikan Indonesia (RPI) menggelar Bazar dan Talkshow bertema “Peran Relawan bagi Sektor Pendidikan Anak Bangsa”, Selasa (5/3/2019) di Cafe D’Commoro, Jalan Batua Raya VII, Makassar.

Pembicara Arqam Azikin, Akademisi UNISMUH dan Pemerhati Politik dan Kebangsaan mengungkapkan bahwa sebenarnya peran relawan terhadap perkembangan politik kebangsaan di tanah air sangat besar. “Dimulai dari sering berkumpul, diskusi, kemudian melahirkan kesepahaman berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu, lahirlah kemudian organisasi Budi Utomo. Begitu pula halnya kalau kita menelisik lahirnya organisasi seperti Muhammadiyah dan Nahdhiyatul Ulama (NU), tidak bisa dilepaskan dari sosok-sosok “relawan” yang peduli dengan kemajuan bangsa,” ungkap Arqam Azikin.

Sementara itu, Muthahharah YMT (Ketua MRI-ACT Korda Gowa), Etta Adil (Pembina KPAJ Makassar) dan Ahmad Ramli Rumpa (RPI), yang ketiganya merupakan “orang lapangan” yang kerap berhadapan dengan situasi bencana dan bantuan tanggap darurat lebih banyak membahas tentang peran dan pengalaman sebagai relawan.

Dari kiri ke kanan: Arqam Azikin, Muthahharah YMT, Ahmad Ramli Rumpa, Etta Adil dan Ahdas A. Hamdika. (foto: anton/rpi)
Dari kiri ke kanan: Arqam Azikin, Muthahharah YMT, Ahmad Ramli Rumpa, Etta Adil dan Ahdas A. Hamdika. (foto: anton/rpi)

“Relawan itu orang yang rela berbuat kebaikan tanpa pamrih, dan karena kerelaannya itulah dia menawan,” ujar Muthahharah YMT seraya mengungkapkan pengalaman berkesannya saat terjun sebagai relawan Aksi Cepat Tanggap di Lombok NTB, Palu Sulawesi Tengah dan Banjir bandang di Sulsel.

Hal senada dikemukakan Ahmad Ramli Rumpa, sebagai Relawan Tanggap Darurat Bencana mengungkapkan kisahnya sewaktu di Palu menangani banyak kondisi sulit, salah satunya dalam hal pengurusan mayat korban gempa dan tsunami. “Intinya, menjadi relawan harus memahami sikap dan tindakan terbaik di lapangan, sehingga pertolongan dan bantuan yang diberikan efektif bagi penanggulangan bencana, termasuk dalam hal sinergi, koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai komunitas/organisasi yang ada.

Lihat juga: Menjadi Relawan, Mengapa Tidak?

Sementara Etta Adil menyorot lambatnya respon pemerintah terhadap tanggap darurat, jika dibandingkan dengan pergerakan relawan. “Hal ini karena umumnya orang pemerintah terkendala administrasi, surat jalan, pembiayaan, koordinasi, dan perintah atasan, sehingga jika dibandingkan dengan teman-teman relawan, praktis pergerakannya lebih cepat. Kondisi ini tidak berarti relawan mengabaikan aspek keselamatan dan koordinasi. Menjadi relawan itu jelas ada ilmunya. Tiap-tiap komunitas memiliki sistem pengkaderan dan pembekalan sendiri bagi anggotanya, sehingga selain ketulusan, bekerja tanpa pamrihnya yang diandalkan, juga kesiapannya diterjunkan kapan saja dan dimana saja,” jelasnya.

Foto bersama usai Talkshow. (foto: anton/rpi)
Foto bersama dengan perwakilan Komunitas usai Talkshow. (foto: anton/rpi)

Talkhow dan Bazar ini berlangsung ramai dan cukup seru, sebagaimana diungkapkan Ketua Panitianya, Anton Muliana. Perwakilan komunitas relawan yang hadir dalam Talkshow yang dipandu Ahdas Adi Hamdika sebagai Moderator dari KPAJ Makassar dan berlangsung dari Pukul 18.30-23.30 WITA ini dihadiri dari RPI, MRI-ACT Korda Gowa, CVA, KPAJ, Ayo Berbagi, Aktivis Sosial Indonesia (AKSI), dan Relawan Pengawal Ambulance Indonesia (RPAI). (*)