TAMAN  Arkeologi Batu Pake Gojeng terletak di Kecamatan Biringere, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, berjarak sekitar 2 km dari pusat kota sinjai. Terletak di sebuah bukit dengan ketinggian 125 meter dari permukaan laut. Taman prasejarah yang dipenuhi pepohonan rindang sehingga tempat ini nyaman untuk bersantai, menikmati semilir angin sambil mempelajari jejak prasejarah.

Tempat ini ramai, oleh orang-orang Sinjai atau wisatawan. Tujuan wisata ini unik karena mengandung nilai sejarah yang telah berusia ribuan tahun. Taman Pesisir Batu Pj Gojeng adalah rujukan bagi pemerintah Sinjai yang berfungsi sebagai taman alam di mana ketinggian geomorfologi dan budaya serta daerah sekitarnya pada umumnya 59-96 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Baca juga: Berwisata ke Gua Prasejarah: Leang Kassi

Batu Pake Gojeng diartikan sebagai batu yang telah dipotong dalam alat dan Gojeng adalah nama daerah. Versi lain mengatakan bahwa “Batu Pake” adalah batu bagi masyarakat setempat. Taman Arkeologi Batu Pake Gojeng yang juga merupakan markas pengintaian Puri dan kemudahan mengawasi pertahanan Jepang dengan kapal-kapal yang melintasi Teluk Bone dan pesawat sekutu.

Pemandangan Kota Sinjai dari atas Bukit Batupake Gojeng. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Pemandangan Kota Sinjai dari atas Bukit Batupake Gojeng. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Pengunjung obyek wisata Taman Prasejarah Batupake Gojeng Sinjai. (foto: ist/palontaraq)
Pengunjung obyek wisata Taman Prasejarah Batupake Gojeng Sinjai. (foto: ist/palontaraq)

Sinjai memiliki pemandangan alam, memalingkan wajahnya dengan deretan sembilan barisan pohon bakau yang melindungi Pulau Tongke-Tongke, dan laut biru tanpa akhir di terumbu Larea-rea. Kompilasi alam yang membuat rumah bordil tertarik untuk melakukan perjalanan serta pariwisata dan konveksi budaya arkeologi wisata yang memiliki nilai sejarah tersendiri.

Keunikan formasi arkeologis dan alami adalah misteri yang belum terpecahkan. Ketika menyelamatkan galian pada tahun 1982, wilayah ini ditemukan berbagai benda, jenis warisan budaya dan bergerak seperti fragmen keramik, tembikar sejumlah kecil fragmen keramik biru dan gigi bawah buvidae, yang diperkirakan dari masa Dinasti Ming, fosil dan kayu peti mati.

Baca juga: Menengok Bungker Jepang di Anggeraja

Taman Arkeologi memiliki nilai sejarahnya sendiri yang memiliki tiga peninggalan seperti peninggalan megalitik, artefak, dan ekofact. Terbukti dengan sisa-sisa batu megalitik dengan lubang yang diameternya bervariasi, yaitu antara 15 cm hingga 70 cm. Namun secara umum ukuran diameter lubang sekitar 25 cm, 40 cm, dan 50 cm dengan kedalaman 35-60 cm yang merupakan ukuran dominan secara acak dan terstruktur, seperti lubang besar dikelilingi oleh sejumlah lubang kecil atau serangkaian lubang kecil yang diapit oleh dua lubang besar, sepasang lubang sejajar dengan ukuran yang sama atau berbeda, dan sebagainya.

Penulis di Taman Prasejarah Batupake Gojeng, Sinjai. (foto: ist)
Penulis di Taman Prasejarah Batupake Gojeng, Sinjai. (foto: ist)
Situs Prasejarah Batu Pake Gojeng. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Situs Prasejarah Batu Pake Gojeng. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Situs Prasejarah Batu Pake Gojeng. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Situs Prasejarah Batu Pake Gojeng. (foto: mfaridwm/palontaraq)

Sisa-sisa arkeologis lainnya dengan ketinggian Menhir kecil berukuran 12-47 cm, lebar antara 20-23 cm sedangkan peninggalan megalitik paling penting dengan keberadaan bongkahan alami bervariasi dalam ukuran. Dan sisa-sisa batu persegi berukir adalah titik fokus dari variasi batu berukir lainnya.  Salah satu lumbung batu persegi, yang terbesar masih dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai situs Batu Pake Gojeng bekas makam Raja-Raja keturunan Raja Batu Pake Gojeng terlebih dahulu.

Baca juga:  Sumpang Ralla, Sejarah Zaman Megalitikum dalam Kompleks Makam

Bukti peninggalan arkeologi telah dipangkas dibuat dengan jalan setapak sebanyak 120 buah langkah-langkah ke bukit dan berubah menjadi lokasi objek wisata objek baik alam dan budaya. Di area situs kita dapat menemukan berbagai pohon seperti pinus (casuarinas sp), pohon cenrana yang cukup tua, Kalumpang (Stercuilla), kelapa (Cocos Nucivera), Kamboja (Plumera akumata), Acacia (Casia sp) , dan Bougenville (Bougenvillea spectabilis).

Rumah Adat Sinjai dalam lingkungan Taman Prasejarah Batupake Gojeng Sinjai. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Rumah Adat Sinjai dalam lingkungan Taman Prasejarah Batupake Gojeng Sinjai. (foto: mfaridwm/palontaraq)
Penulis dan Prasasti Peresmian Obyek Wisata Batupake Gojeng,Sinjai. (foto: ist/palontaraq)
Penulis dan Prasasti Peresmian Obyek Wisata Batupake Gojeng,Sinjai. (foto: ist/palontaraq)
Penulis dan Prasasti Peresmian Obyek Wisata Batupake Gojeng,Sinjai. (foto: ist/palontaraq)
Situs Prasejarah Taman Batupake Gojeng,Sinjai. (foto: ist/palontaraq)

Untuk mendukung pariwisata di lokasi taman prasejarah ini, Pemerintah Kabupaten Sinjai dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata memiliki sarana pendukung tambahan sebagai Situs Caravaning seperti pemugaran rumah Taman Arkeologi dan fasilitas lain seperti pemandian yang dipercaya untuk mandi. memiliki tempat cuci tua para raja, anak yang menyegarkan dengan taman bermain anak-anak.

Traveling to Sinjai:

Traveling to Prehistoric Park of Batu Pake Gojeng, Sinjai

History of the Balangnipa Portress, Sinjai

Dalam kompleks Taman Batupake Gojeng juga terdapat berbagai jenis burung dikarantina dengan variasi seperti sangkar burung Elang Sumatra berukuran tinggi 6 x 6 m dan tinggi hampir 4 meter. Sementara burung beo, burung beo Kalimantan, sepasang burung Kutilang, serta kandang jenis burung lainnya berukuran 1 x 1,5 mtr dengan tinggi hampir 2 mtr. Kompleks Taman Prasejarah ini juga memiliki gazebo sebagai tempat ngobrol dengan teman-teman yang ingin menikmati panorama kota dan sekitar Sinjai dan berbagai fasilitas lainnya.  (*)