GOWA – Relawan Pendidikan Indonesia (RPI) kembali membuat gebrakan. Kali ini bukan hanya turun membantu masyarakat yang terkena bencana fisik, tetapi juga kembali turun ke bawah  ketika berada di suatu wilayah, yang masyarakatnya terkena bencana moral. Berjumlah 8 relawan, RPI turun ke salah satu wilayah terpencil Kabupaten Gowa yang dikenal sebagai “segitiga emas rawan dakwah”, menjadi salah satu mitra MRI-Aksi Cepat Tanggap (ACT) Korda Gowa, Sabtu pekan lalu, (23/2/2019).

Wilayah jelajah RPI yang juga merupakan Kampung Binaan MRI-ACT Gowa itu tepatnya berada di Dusun Borong Bulo, Desa Parang Lompoa, Kecamatan Bontolempangan. Relawan harus menempuh perjalanan sekitar 2-3 jam dengan kendaraan bermotor, kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 2 jam untuk sampai di lokasi yang  awalnya dikenal sebagai  “Kampung Murtad”.

Lihat juga:  Relawan Pendidikan Indonesia Peduli Kampung Muallaf

Kunjungan RPI kali ini dalam rangka kegiatan pendistribusian 50 paket alat tulis sekolah dan pengajaran. Sesuai dengan sebutannya, Dusun Borong Bulo Parang Lompoa Bontolempangan tersebut jarang sekali tersentuh dakwah Islam karena lokasinya yang terpencil.  Satu kesyukuran bahwa beberapa tahun terakhir, beberapa lembaga dakwah seperti Muhammadiyah, Wahdah Islamiyah dan Ma’had Al-Birr telah memusatkan perhatiannya, pendampingan dakwah di Dusun Borong Bulo tersebut sehingga sekarang tersisa 34 jiwa yang belum kembali memeluk Islam.

Perjalanan Menuju Kampung Murtad
Perjalanan Menuju Dusun Borong Bulo, “Kampung Murtad”. (foto: Ayumiccu)
Para Relawan RPI mengajak bermain dan belajar Anak-anak Borong Bulo (foto: Ayumiccu)
Para Relawan RPI mengajak bermain dan belajar Anak-anak Borong Bulo (foto: Ayumiccu)
relawan RPI memberikan bantuan peralatan sekolah kepada anak-anak (foto: ayumiccu)
Relawan RPI memberikan bantuan peralatan sekolah kepada anak-anak (foto: ayumiccu)

“Kondisi pendidikannya sendiri sangat miris, sekolah berdampingan langsung dengan jurang tanpa dinding, guru jarang masuk. Adapun guru SD merangkap mengajar menjadi guru SMP. Jika guru tidak hadir maka kegiatan belajarpun ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan, padahal adik-adik disana mempunyai potensi bakar yang sangat bagus untuk diasah,” ungkap Mega Ayuni, Pengurus RPI yang juga Relawan ACT.

Lihat juga: Fenomena Anak Jalanan di Makassar

Keseluruhan relawan yang turun di Kampung Murtad merasakan kepedihan yang sama melihat kondisi masyarakat dan pendidikan disana. Relawan RPI, Dhiah, Bella, dan Nurhikmah sampai tak habir pikir kenapa masih ada juga kondisi sosial pendidikan seperti itu, sementara di sisi lain Kabupaten Gowa telah menampakkan banyak kemajuan.

“Mari kita jelajahi desa-desa terpencil yang sama sekali masih membutuhkan bantuan, baik materil maupun non materil kerena tidak semua proses belajar mengajar di sekolah berjalan dengan baik. Di Desa Parang Lompoa sendiri, sampai-sampai kami tidak dapat menahan air mata melihat kondisi miris sekolah disana. Anak sekolah terlantar karena ketiadaan guru, baik di sekolah maupun di masyarakat,” Ujar Ahdas Adi Hamdika.

Para Relawan RPI dan ACT Gowa mengajak bermain dan belajar anak-anak. (foto: ayumiccu)
Para Relawan RPI dan ACT Gowa mengajak bermain dan belajar anak-anak Dusun Borong Bulo. (foto: ayumiccu/palontaraq)
Para Relawan RPI dan ACT Gowa mengajak bermain dan belajar anak-anak. (foto: ayumiccu)
Para Relawan RPI dan ACT Gowa mengajak bermain dan belajar Anak-anak Dusun Borong Bulo. (foto: ayumiccu/palontaraq)

Hal yang sama diungkapkan oleh Relawan RPI lainnya. “Kondisi masyarakat di Kampung Murtad sangatlah miris, dari segi perekonomian dan pendidikan. Bantuan dari pemerintah untuk kampung murtad kebanyakan diselundupkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab. Masyarakat di Kampung Murtad sangat membutuhkan sekalian pendampingan dari segi pengajaran agama, juga sekolah disana agar tidak terabaikan, karena kebanyakan warga di sana non muslim (berpindah agama),” ungkap Athen, Relawan RPI.

Sementara itu Anton, Relawan RPI lainnya merasa miris melihat kondisi pendidikan di Dusun Borong Bulo tersebut. “Masyarakat disana seakan terabaikan, padahal mereka juga memiliki hak untuk menikmati hasil pembangunan. Meski anak-anak disana memiliki semangat belajar tinggi, tapi kalau kurang tenaga pengajar maka pendidikan dan aqidah mereka juga terancam,” ujar Anton yang juga Relawan RPI dan MRI-ACT Gowa.

Lihat juga: 7 Bahaya Membentak Anak

“Selama di Borong Bulo, masyarakat terima kami dengan sangat ramah. Kami mengajar anak SD dan SMP. Saat meminta salah seorang murid perempuan untuk membacakan puisinya, belum 1 menit anak tersebut meneteskan air mata karena terharu, begitu pula dengan semua teman sekelasnya. Anak-anak di Borong Bulo memiliki bakat dan minat terhadap pelajaran dengan baik, hanya saja ke depan perlu perhatian khusus dari pemerintah setempat. Lingkungan disana sangat terjaga kelestariannya, hanya saja kurangnya pemahaman masyarakat untuk pemberdayaan hasil perkebunan mereka. Toleransi masih sangat kental, tak ada diskriminasi terhadap agama manapun, tenang dan damai serta gotong royong masih terjaga,” tutur Laksmana,  Koordinator Bidang Pendidikan di MRI-ACT Gowa.  (*)