ADA banyak kisah rusaknya rumah tangga karena media sosial. Berdekatan dengan istri atau suami, tapi pikiran dan perasaan tidak berada di tempat, melainkan fokus pada lawan chating atau lawan japrian. Tubuh saja yang berdekatan, tetapi hati sudah berkelana ke tempat yang jauh. Berikut ini ada dua kisah tentang hancurnya rumah tangga karena media sosial, karena itu berhati-hatilah dan bijaklah memanfaatkannya.

Kisah Pertama

Seorang bapak curhat di sebuah acara nikahan. Istrinya selingkuh setelah berkenalan dengan seorang pria via Smule. Bahkan si istri, jauh-jauh ke Singapura hanya untuk bertemu dengan teman duet nyanyinya di Smule. Suaminya mengizinkan pergi karena mengira cuma urusan biasa. Perlahan-lahan, si bapak tahu semuanya. Dan pastinya, sakit hatinya. Yang beliau tahu, istrinya sangat baik dan telaten mengurus anak-anak. Tidak mengeluh, walaupun secara umur mereka terpaut 11 tahun.

Lalu si istri ngotot mengajukan cerai di pengadilan. Sesaat setelah palu sidang diketuk, maka si bapak merangkul si istri yang masih dicintainya, seraya mengatakan “kita rawat Anak-anak bersama”. Tidak lama berselang, jaksa mendatangi si bapak lalu mengatakan “Saya melihat, istri bapak ini tidak mau cerai”. “Tapi dia sendiri yang mengajukan dan meminta cerai” jawab si bapak. Beliau bingung juga. Yang jelas perceraian telah terjadi.

Kisah Kedua

Di kesempatan lain, seorang teman memediasi suami istri yang terus bertengkar dan ada niat cerai. Mereka sebelumnya ikut di sebuah acara ruqyah massal karena si suami khawatir istrinya kena sihir sampai ada niat bercerai. Ternyata pemicu awalnya, si istri belajar pakai facebook lalu “bertemu kembali” dengan mantan pacar.

Di depan teman saya, mereka terang-terangan saling menuduh. Teman saya menyampaikan, kalau di depan mediator mereka sudah tidak bisa menahan diri, maka kayaknya sudah sulit rumah tangga mereka bertahan. Teman saya pulang. Sekitar 3 bulan setelah itu, mereka resmi bercerai. Anak pertama ikut si Ibu. Anak kedua ikut si bapak.

sosial-media-terpaku
Sosial media terpaku (foto: ist/palontaraq)

Memahami Tanggung Jawab

Sekelumit cerita di antara fenomena media sosial yang berujung pada hancurnya rumah tangga. Sekecil apapun masalah yang terjadi dalam keluarga, kenali masalahnya dan harus ada saling menahan diri, mengingat kembali perjuangan sulitnya membangun rumah tangga sampai bertahan sampai sekarang.

Jangan karena persoalan status di facebook, WA, instagram, dan media sosial lainnya memicu kericuhan rumah tangga. Ada kalanya juga seorang suami atau istri membutuhkan rehat sejenak dan mengenang masa-masa indah bersama sahabat dan teman lamanya, tetapi di satu sisi harus disadari pula, bahwa keduanya sudah tidak muda lagi dan sudah punya tanggung jawab keluarga. (*)