VIRALNYA tagar #UninstallBukalapak, berawal  dari cuitan Chief Executive Officer (CEO) Bukalapak, Achmad Zaky, soal kecilnya biaya Penelitian dan Pengembangan (R&D)  Indonesia.  Zaky, lewat akun twitter pribadinya @achmadzaky, berkicau, “Omong kosong Industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kaya gini,” kata Zaky, dilanjutkan menyertakan 10 negara beserta alokasi anggaran untuk pos riset dan pengembangan. Zaky lantas memasukkan Indonesia di posisi paling bawah, setelah Amerika, Cina, Jepang, dan bahkan Singapura serta Malaysia. Mudah-mudahan presiden baru naikin (anggaran riset dan pengembangan).”

Kalimat terakhir dari cuitannya inilah yang kemudian memicu keributan dan membuat warganet yang Pro Jokowi (Projo) bereaksi.  Cuitan ini ditanggapi sejumlah warganet dengan menyimpulkan bahwa Zaky tengah “menyerang” Jokowi. Frasa “presiden baru” diartikan sebagai dukungan terhadap lawan Jokowi di Pilpres 2019: Prabowo dan Sandiaga Uno.

Sontak, Tim Kampanye Jokowi, dibantu warganet yang Projo, menyerang Zaky dan Bukalapak secara brutal. Padahal, Zaky sendiri sudah melakukan klarifikasi bahwa yang dimaksud dengan “presiden baru” bisa siapa saja, termasuk Jokowi.  Zaky memang salah menulis karena frasa tersebut sudah terlanjur melekat dan dekat dengan tagar kampanye 02, yaitu #2019GantiPresiden.

Banyak warganet yang mencoba memahami, bahwa yang dilakukan Zaky  adalah slip of the thumb.  Namun,  Zaky dan Bukalapak, salah satu marketplace online terkemuka di Indonesia, sudah dihakimi di media sosial secara brutal.  Warganet bereaksi sesuai dengan pilihan politik dalam Pilpres 2019. Karena itu kemudian muncul tagar tandingan dari #UninstallBukalapak yaitu tagar #UninstallJokowi dan tagar #ShutdownJokowi. Perang tagar di jagad twitter ini menjadi trending topic untuk saat ini.

Jubir TKN Jokowi-Ma’ruf, Arya Sinulingga, kepada Pers, mengatakan bahwa Zaky dengan Bukalapaknya seperti “kacang lupa pada kulitnya”. Arya mengatakan, selama ini Jokowi sudah begitu banyak membantu Zaky dan Bukalapak.  “Ini, kan Orang-orang yang tidak sadar diri. Orang-orang yang sangat menyedihkan,” ujar  Arya seakan mewakili suara warganet yang menghakimi Bukalapak.

Sayangnya, di tengah keriuhan serangan brutal kepada Zaky dan Bukalapak, Projo  seakan lupa kalau jagad maya sangat memungkinkan “perang terbuka”, sesuatu yang tak terduga akan adanya “serangan balik” dari warganet yang berbeda pilihan politik.  Seakan mendapatkan amunisi baru untuk menyerang, mereka yang Pro Prabowo-Sandi segera memainkan tagar #UninstallJokowi dan #ShutdownJokowi.  Tagar ini bukan dari Zaky dan Bukalapak, melainkan dari kubu Pro Prabowo Sabdi beserta warganet pendukungnya. (*)