LOMBOK TENGAH — Jika ke Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), rasanya belum sepenuuhnya mengunjungi Pulau eksotik tersebut jika belum berkunjung ke Dusun Sade di Lombok Tengah. Nama Sade familiar di telinga wisatawan, baik lokal maupun mancanegara yang ke Lombok. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang masih mempertahankan Adat Suku Sasak, salah satu dusun di Desa Rembitan, Pujut, Lombok Tengah.

Dinas Pariwisata setempat memang menetapkan Sade sebagai Desa Wisata, karena keunikan permukiman, tradisi, bahasa, lingkungan, dan kehidupannya. Meski terletak persis di samping jalan raya aspal nan mulus, penduduk Desa Sade di Rembitan, Lombok Tengah masih berpegang teguh menjaga keaslian desa. Sade adalah cerminan suku asli Sasak Lombok.

Travelers, Relawan Pendidikan dari Sulsel saat mengunjungi Dusun Sasak Sade. (foto: ist/palontaraq)
Travelers, Relawan Pendidikan dari Sulsel saat mengunjungi Dusun Sasak Sade. (foto: ist/palontaraq)
Hasil kerajinan tenunan asli warga Dusun Sasak Sade. (foto: ist/palontaraq)
Hasil kerajinan tenunan asli warga Dusun Sasak Sade. (foto: ist/palontaraq)
Pakaian adat suku asli sasak sade. Bisa dicoba oleh Pengunjung, wisatawan atau travelers yang ke Dusun Sade. (foto: ist/palontaraq)
Pakaian adat asli Suku Sasak Sade.  Bisa dicoba oleh Pengunjung, wisatawan atau travelers yang ke Dusun Sade. (foto: ist/palontaraq)

Di Dusun Sade, Wisatawan dan travelers disuguhkan suasana perkampungan asli khas pribumi Lombok. Bangunan rumah terkesan sangat tradisional. Atapnya dari ijuk, kuda-kuda atapnya memakai bambu tanpa paku, tembok dari anyaman bambu, dan langsung beralaskan tanah. Orang Sasak Sade menyebutnya ‘bale’. Ada delapan bale yang terdapat dalam lingkungan permukiman Sade itu, yaitu Bale Tani, Jajar Sekenam, Bonter, Beleq, Berugag, Tajuk dan Bencingah. Bale-bale itu dibedakan berdasarkan fungsinya.

Penulis di depan Bale', dalam lingkungan permukiman Suku Sasak Sade
Penulis di depan Bale’, dalam lingkungan permukiman Suku Sasak Sade. (foto: ist/palontaraq)
Para pengunjung dalam balutan pakaian tradisional Suku Sasak Sade. (foto: ist/palontaraq)
Para pengunjung dalam balutan pakaian tradisional Suku Sasak Sade. (foto: ist/palontaraq)

Tak sampai satu jam jika ingin mengelilingi permukiman Sade tersebut. Ada 150 Kepala Keluarga (KK) di Sade. Dulu, penduduknya banyak yang menganut Islam Wektu Telu (hanya tiga kali sholat dalam sehari). Saat ini, banyak Penduduk Sade sudah meninggalkan Wektu Telu dan memeluk Islam sepenuhnya. Uniknya, warga desa punya kebiasaan khas yaitu mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau.

Jaman dahulu ketika belum ada plester semen, orang Sasak Sade mengoleskan kotoran kerbau di alas rumah. Sekarang sebagian dari kami sudah bikin plester semen dulu, baru kemudian kami olesi kotoran kerbau. Konon, dengan cara begitu lantai rumah dipercaya lebih hangat dan dijauhi nyamuk. Bayangkan saja, kotoran itu tidak dicampur apapun kecuali sedikit air. Tapi saat saya masuk ke rumah, tak ada bekas bau yang tercium.

Bagian dalam Rumah Adat Suku Adat Sade. Rumah ini yang paling tua di tengah permukiman, yang dahulunya alas rumah ini diolesi tahi kerbau supaya tahan lama dan dingin. (foto: ist/palontaraq)
Bagian dalam Rumah Adat Suku Adat Sade. Rumah ini yang paling tua di tengah permukiman, yang dahulunya alas rumah ini diolesi tahi kerbau supaya tahan lama dan dingin. (foto: ist/palontaraq)
Beragam Souvernir dan cenderamata hasil karya Warga Dusun Sasak Sade. (foto: ist/palontaraq)
Beragam Souvernir dan cenderamata hasil karya Warga Dusun Sasak Sade. (foto: ist/palontaraq)

Jika mencari souvenir khas Suku Sasak atau hasil kerajinan asli, wisatawan dan para travelers juga dapat membelinya langsung dari penduduk dalam lingkungan permukiman. Warga Sade sangat ramah dan terbuka, bahkan untuk mencoba pakaian adat khas Suku Sasak dan tenunan aslinya, mereka ikhlas seraya menjelaskan kapan harus dipakai, bagaimana memakainya, serta dalam kapasitas siapa dan dalam acara apa memakai pakaian adat tersebut. Demikian Suku Sasak Sade dengan segala keunikannya, Jangan pernah mengatakan pernah ke Lombok, Nusa Tenggara Barat jika belum mengunjungi Dusun Sasak Sade. (*)