PALONTARAQ.COM — Banyak sekali dalam kehidupan ekonomi kita yang menawarkan jeratan riba tanpa kita sadari. Ironisnya, sebagian besar masyarakat menikmati karena keinginan yang dipandang sebagai kebutuhan, disamping karena kemudahan dan fasilitas yang diberikan.

Sebagai contoh, Kartu Kredit. Dimana letak jeratan ribanya. Kartu Kredit walau dibayar lunas tetap tidak boleh karena akadnya sendiri sudah riba, jika telat bayar kena denda. Bunga bank sudah pasti. Uang riba dari bunga bank yang didapat hanya boleh untuk fasilitas umum atau fasilitas sosial seperti jalan, MCK, jembatan, perbaiki jalan kampung, dan lain-lain tidak boleh untuk sedekah.

Ada pula bisnis Multi Level Marketing (MLM) yang banyak digeluti sebagai jalan mudah menambah penghasilan. Ada 12 syarat untuk dapat dikatakan MLM itu halal. MLM yang ada ketentuan Member get member haram hukumnya karena menikmati hasil keringat dari downline. Begitu pula dengan Jual beli leasing, harusnya Bank atau badan penjamin yang membeli kendaraan terus dijual ke nasabah. Tapi prakteknya bank atau badan penjamin hanya mewakili (perantara) antara dealer dan nasabah.

Asuransi pun begitu. Asuransi ibaratnya seperti anjing yang menjilat ludahnya sendiri.
Jaman nabi ada kejadian dulu.Jika ada yg sakit para sahabat baru mengadakan urunan untuk membantunya. Dari tinjauan fikih, sebagian besar (jumhur) Ulama sepakat bahwa semua asuransi yang ada sekarang akadnya batil.

Jadi, sedapat mungkin dan harus bagi kita semua, khususnya umat muslim untuk menghindari riba atau praktek ribawi. Sebagaimana halnya menghindari sifat atau tabiat buruk utang. Agar bahagia hidup di dunia, utang itu sebenarnya candu walaupun dibolehkan. Utang baru bisa lepas kalau tiga hal: Dibawa mati, Ada tekanan dari luar, dan Ada kesadaran dari diri sendiri.

Seorang Pegawai Pemerintah (Pegawai Negeri Sipil, TNI, Polisi, Karyawan BUMN) tidak pernah bawa pulang SK-nya jika berhutang, karena SK dijadikan jaminan bank terus menerus sampai mati. Seseorang yang kalau utang biasanya tidak lihat harga barang tapi liat berapa cicilannya. Jumlahnya bertambah dan akan terus bertambah, sampai tidak bisa bayar utang bahkan untuk membayar bunganya saja tidak mampu.

Dalam praktek ribawai, utang kartu kredit begitu pula, akan terus bertambah limitnya, bertambah jumlah kartunya. Pebisnis, plafon utangnya akan dibuat terus bertambah. Jadi, Utang bukan solusi tapi malam menambah beban. Hari ini dapat utang, besok sudah harus mengangsur.
Beban utang bukan hanya beban angsuran, tapi juga menjadi beban psikologis yang luar biasa. Terjerat utang akan membuat gelisah pada malam hari dan sulit tidur karena memikirkan angsuran, ditelpon teroris DC (Debt Collector).

“Berhati-hatilah ketika kalian berutang, karena utang itu akan mendatangkan kegelisahan di malam hari dan kehinaan di siang hari.” (HR. Imam Bukhari)(*)