TRANSFORMASI  digital sudah dipopulerkan di Indonesia sejak beberapa tahun terakhir sebagai langkah bagi pelaku bisnis mengadopsi perkembangan teknologi demi membuat perusahaan mereka relevan dengan tren saat ini.  Sosial media, mobilitas, cloud, data analisis, internet of things, dan bimodal IT merupakan tren topik yang menghangat di kalangan industri Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).  Tren-tren tersebut hadir untuk mendukung tujuan yang lebih besar yakni untuk memungkinkan transformasi perusahaan menjadi bisnis digital

Hendra Lesmana, CEO Dimension Data Indonesia, menjelaskan era digital akan segera terjadi di mana teknologi dan data menjadi penentunya.  “Transformasi digital menjadi agenda penting perusahaan mengingat hal ini telah mempengaruhi peta persaingan industri saat ini,” ujarnya. Sementara itu,  Rully Moulany, Country Manager Red Hat Indonesia, mengatakan, di Indonesia transformasi digital bukan lagi hal baru.

Dalam sebuah observasi oleh Red Hat (sumber: Medcom), transformasi digital masih menjadi area yang mendapatkan investasi besar pada 2019. Survei dari 400 pelanggan Red Hat di seluruh dunia dengan responden dari 51 negara menemukan bahwa transformasi digital mengalami kemajuan tetapi sulit untuk mengembangkan dan mengimplementasikan strategi transformasi digital.

Baca juga: Ini Penyebab Sistem Keamanan Perusahaan Indonesia rentan Dibobol

Sebanyak 35 persen perusahaan berencana untuk mencari model bisnis baru atau mengenalkan produk dan layanan digital baru dalam 12 bulan ke depan. Sebagian besar dari perusahaan itu adalah pelaku industri layanan keuangan. “Perusahaan menyadari bahwa mereka harus melakukan transformasi dan memiliki teknologi, terutama aplikasi dan pengalaman pengguna digital, yang dapat mendorong diferensiasi kompetitif mereka,” ungkap Rully Moulany

Menurut Rully, transformasi digital tidak hanya dari produknya tapi perusahaan juga harus menciptakan transformasi digital di budaya perusahaannya, berkaitan dengan sumber daya manusia. Selain itu regulasi juga harus didorong mendukung output dari transformasi digital. “Dari sisi regulasi juga harus jelas karena di saat perusahaan atau organisasi mau bergerak cepat mengadopsi transformasi digital, biasanya regulasi baru menyesuaikan. Regulasi akan selalu di belakang tapi transformasi digital harus tetap berjalan,” jelas Rully. (*)