JAKARTA, Palontaraq.com — Joko Widodo (Jokowi) mencabut remisi I Nyoman Susrama, pembunuh wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. Alhasil, Susrama tetap harus menjalani hukuman penjara seumur hidup. Istri Prabangsa, Prihartini tidak kuasa menahan kegembiraannya mendengar remisi Susrama dicabut. “Bagaimana tidak, suami saya dihabisi dengan biadab oleh Susrama. Sangat bersyukur,” ujar Prihartini kepada Pers, Sabtu (9/2/2019).

Baca Berita Sebelumnya: AJI Sesalkan Jokowi Beri Remisi Susrama

Prabangsa adalah wartawan Radar Bali yang dibunuh Susrama karena tidak terima atas tulisan dugaan korupsi dirinya. Susrama membunuh Prabangsa pada 2009. Setelah terungkap, Susrama kemudian divonis hukuman seumur hidup. Satu dasawarsa berlalu, Susrama mendapatkan remisi dari Kemenkumham. Jagad Pers kaget, sontak seluruh wartawan seluruh Indonesia mengajukan tuntutan protes. Setelah mendapat masukan dari berbagai pihak, Jokowi mencabut remisi itu.

“Berkat Tuhan bagi kami,” ujar Prihartini, istri Prabangsa. Pencabutan remisi Susrama dipastikan sesuai prosedur UU. “Suatu keputusan yang telah ditetapkan tidak menyalahi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Atas pertimbangan asas-asas umum pemerintahan yang baik yaitu ‘asas kepentingan umum’, maka perubahan keputusan tersebut diperbolehkan dan sah dilakukan”, ujar Dr Bayu Dwi Anggono, Ahli hukum tata negera.

Sementara itu, Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno mengapresiasi kebijakan Presiden Joko Widodo yang mencabut remisi I Nyoman Susrama, pembunuh wartawan Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa. BPN menilai Jokowi mulai terbiasa mengakui kesalahan.
“Pertama, kita apresiasi kebijakan mencabut itu, itu artinya Pak Jokowi mulai terbiasa untuk mengakui kekeliruan, tanpa perlu malu-malu kalau keliru, ya diperbaiki dan minta maaf,” kata Koordinator Juru Bicara BPN, Dahnil Anzar Simanjuntak, kepada Pers, Sabtu (9/2/2018).

Lebih lanjut Dahnil mengatakan bahwa pencabutan remisi pembunuh wartawan itu menandakan Jokowi gegabah dalam mengambil keputusan. “Pak Jokowi, sudah membuat keputusan yang keliru tapi akhirnya diperbaiki. Ya memang beliau tentu minta maaf karena grasa-grusu itu, tetapi kan sudah diperbaiki dengan cara menganulir kebijakan yang beliau buat. Tradisi meminta maaf kepada publik karena kekeliruan atau karena grasa-grusu ini penting, karena tidak membaca dan memahami jadi beliau minta maaf dan mengubah kebijakan itu,” imbuhnya. (*)