PERANG dalam pandangan etnis manapun di nusantara ini adalah sesuatu yang tidak diinginkan, namun semua etnis punya tradisi dan cara tersendiri mempersiapkan segala kemungkinan perang yang tidak diinginkan itu. Itu pula sebabnya, hampir semua etnis di nusantara ini memiliki kekhasan budaya terkait perang, dipertunjukkan lewat tari perang, dan malahan ada nyanyiannya, sebut saja nyanyian perang, seruan untuk mempersiapkan diri untuk berperang.

Baca Juga: Sejarah dan Kultur Perniagaan di Sungai Pangkajene

Dalam khazanah Budaya Makassar, menilik dari perjalanan sejarah, Masyarakat Makassar memandang perang (Bahasa Makassar: Bundu) itu ada empat macam, yaitu:

Pertama, Perang yang disebut “Bundu Ruma-rumayya”, yaitu Perang yang terjadi pada masa “Sianre Balei Tauwwe”, masa sebelum kedatangan Tomanurung (sebutan Raja Pertama bagi seluruh kerajaan yang pernah ada di tanah Bugis Makassar). Masa “Sianre Balei Tauwwe” disebut juga “saling memakan”, yang terjadi adalah Hukum Rimba, saling menaklukkan, sehingga yang kuatlah yang menang, yang kuat menindas yang lemah, yang kuatlah secara fisik yang memerintah.

Baca Juga: Perjanjian dalam Sejarah Sulawesi Selatan

Kedua, Perang yang disebut “Bundu Katte-kattea”. Ini terjadi di Sulawesi Selatan, sekitar Abad XV, terjadi karena kesalah-pahaman dalam menegakkan Syariat Islam, diawali dengan konflik dan perang berkepanjangan antara Kerajaan Gowa dengan Kerajaan Bone, yang berujung pada terjadinya penghambaan, dominasi Gowa atas Bone, Penjajahan Gowa atas Bone, dengan dikirimnya 40.000 tenaga kerja paksa, tidak perduli itu Bangsawan dan Rakyat Bugis (Bone-Soppeng) ke Gowa-Tello membangun benteng-benteng Makassar.

Baca Juga: “Manu” in History and Culture of South Sulawesi

Ketiga, Perang yang disebut “Bundu Api-apia”, yaitu Perang yang terjadi pada masa Penjajahan Belanda. Pada Perang ini, Rakyat Bugis dan Makassar sudah menyatu sebagai satu kesatuan masyarakat yang tak terpisahkan dan mereka kemudian menghadapi musuh bersama, yaitu Belanda.

Keempat, Perang yang disebut “Bundu Tossika”. Kategori Perang ini adalah perang di masa damai, namun terjadi konflik dan perang karena adanya Provokator dan Fitnah dimana-mana. Perang inilah yang paling dahsyat diantara beberapa peperangan yang terjadi pada sekarang. Pesan leluhur Orang Makassar menyebutkan pesan agar jangan memasuki wilayah perang ini atau menjadi bagian dari perang ini. Ungkapan “Teaklaloko Pantamai” bermakna jangan sekali-kali memasuki perang itu, perang di zaman fitnah dan terjadi karena saling fitnah.

Demikianlah, klasifikasi perang (Bundu) dalam khazanah Budaya Makassar, semoga dapat menjadi pencerahan dan bermanfaat adanya. (*)

Etta Adil di Pangkep, 6 Februari 2019