APA yang dimaksud dengan framing? Secara sederhana,  framing ialah  membingkai atau mensetting sebuah peristiwa/berita untuk kepentingan si pemilik media atau siapa saja (orang atau lembaga) yang memiliki kedekatan dengan media itu.  Framing bisa pula dipahami sebagai cara pandang atau perspektif yang digunakan wartawan atau media massa ketika menyeleksi isu, peristiwa tertentu atau saat menaikkan suatu berita.

Bisakah suatu media melakukan framing?  Framing dalam kondisi khusus bisa dipakai sebagai salah satu metode analisis media, menyangkut  isi dan semiotik.  Hanya saja framing berpotensi merugikan sumber berita dan pembaca, karena mengingkari fakta sebagian dan mengakui sebagiannya yang lain. Framing seperti ini berpotensi fitnah karena pembaca tidak mendapatkan informasi yang utuh, sehingga maksud yang sebenarnya dari sumber berita tidak sampai kepada pembaca.

Sebagai suatu metode penyajian berita, framing bisa berdampak positif dan negatif. Karena realitas atau fakta  disajikan tidak apa adanya, di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan penonjolan pada aspek tertentu. Seseorang yang bersalah secara hukum bisa dipandang tidak bersalah jika wartawan dan media itu tidak utuh dalam menyajikan fakta, mengingkari sebagian yang lainnya dan membenturkannya dengan pendapat/opini sumber lain yang merugikan sumber beritanya sendiri.

Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta, dalam konteks kekinian banyak sekali bertebaran, bukan hanya di media sosial, portal berita online, tetapi juga di media mainstream. Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, dan disetting dengan apik bagaimana aspek tersebut ditulis, sehingga menimbulkan persepsi yang keliru di mata pembaca.  Hal ini sangat berkaitan dengan pamakaian diksi atau kata, kalimat, gambar atau foto, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.

framing-effect
framing-effect

Potensi fitnah dan hoax sebenarnya dapat terjadi secara terus menerus jika suatu media memainkan framing, membingkai fakta dengan opini, mengkaji realitas dengan pendapat narasumber yang sama kepentingannya dengan media itu.  Sebenarnya seperti itulah tujuan  framing dipakai, yaitu pembingkaian realitas (peristiwa, individu, kelompok, dan lainnya).  Boleh saja suatu media mengatakan framing  merupakan proses konstruksi, tapi di sisi lain bisa menimbulkan masalah serius karena fakta dimaknai dan direkonstruksi dengan cara dan makna tertentu.  Akibatnya, hanya bagian tertentu saja yang lebih bermakna, lebih diperhatikan, dianggap penting, dan lebih mengena dalam pikiran khalayak.

Dalam praktiknya,  framing media banyak digunakan untuk melihat frame surat kabar, sehingga dapat dilihat bahwa masing-masing surat kabar sebenarnya memiliki kebijakan politis tersendiri dan juga punya kepentingan tertentu dibalik pemberitaannya. Sebagai contoh framing adalah berita media daring CNN Indonesia  yang melakukan framing terhadap Amien Rais, Ahad (10/6/2018) atas pemberitaan reporternya Gloria Safira Taylor. Hal ini diungkapkan Hanum Rais. “Terus-terusin aja fitnahnya ya @CNNIndonesia dan pertahankan reporter hoaxer Gloria Safira Taylor yang entah udah berapa kali memframing berita AR dengan agenda jahat,” kata Hanum melalui media sosial pada Ahad (10/6/2018).

Tanggapan Hanum Rais tersebut sebagai reaksi pembaca terhadap framing berita berjudul “Amien: Tuhan Malu Tak Kabulkan Doa Ganti Presiden Jutaan Umat”.  Selang beberapa jam, CNN memuat judul “Amien Rais Klarifikasi soal ‘Tuhan Malu Tak Kabulkan Doa’”. Amien menyebut pernyataannya soal Tuhan malu jika tidak mengabulkan doa umat yang ingin ganti presiden berpegang pada Alquran dan Hadis. “Pegangan saya pada dua ayat Quran,” kata Amien, Ahad(10/6/2018). Amien mengutip Surat Adz-Drariyat ayat ke 50. Dia pun menggarisbawahi ayat Faghfiru ilallah yang menurut tafsiran Amien: “Larilah engkau semua menuju Allah tatkala menemukan masalah dan mencari solusi.”

Jadi, ada ungkapan narasumber yang dikutip, dan adapula yang diabaikan, seperti itulah framing.  Pernyataan Amien Rais tidak dikutip secara utuh sehingga berpotensi dimaknai berbeda oleh pembaca.  Sejatinya CNN Indonesia juga mengutip dasar pernyataan Amien Rais tersebut, sebagaimana mengutip Qs. Al-Ghafir ayat 60.  Amien Rais menafsirkan bahwa apapun permintaan kepada Tuhan, maka akan dikabulkan oleh Allah. “Waqaala rabbukumu ud’uunii astajib lakum inna alladziina yastakbiruuna ‘an ‘ibaadatii sayadkhuluuna jahannama daakhiriina”.  Artinya, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka”.

Bagaimana menghindarkan diri dari Framing? Setidaknya mengertilah cara kerja media dan bijaksanalah dalam berkomentar saat menjadi narasumber media tertentu. (*)