BIRINGERE adalah sebuah identitas budaya lokal. Biringere tak hanya dikenal sebagai nama desa, tapi juga sebagai entitas tradisi lokal. Hal ini ditegaskan tokoh adat Masyarakat Biringere, Simpuang Ago.  “Meski masih satu lingkungan dengan Kantor Pusat dan Pabrik PT. Semen Tonasa, Biringere tidaklah boleh tergerus arus industrialisasi. Kehadiran industri semen ini tidaklah boleh menggerus budaya asli Biringere, sebaliknya masyarakat Biringere mendukung dan mengapresiasi jika PT. Semen Tonasa punya upaya kepedulian pelestarian budaya lokal”, ungkap Tokoh Adat yang pernah dinobatkan sebagai Budayawan Pelopor Pembangunan Kabupaten Pangkep Pada Tahun 2003 oleh Pemerintah Kabupaten Pangkep ini.

Masih lestarinya pranata adat dan seni tradisional di Desa Biringere yang masuk dalam lingkup wilayah Kecamatan Bungoro Pangkep ini tidak terlepas dari ketokohan Simpuang Ago atau yang akrab disapa Puang Ago ini sebagai tokoh sentral yang disegani dan pewaris kekuasaan adat “Puang Tellue ri Borong Untia”.

Tetua Adat Biringere, Simpuang Ago. (foto: ist/palontaraq)
Tetua Adat Biringere, Simpuang Ago. (foto: ist/palontaraq)
Kepala Desa, Andi Alam, LCO, Muhamamd Farid Wajdi, dan Keluarga keturunan Puang Tellue ri Borong Untia saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Kepala Desa, Andi Alam, LCO, Muhamamd Farid Wajdi, dan Keluarga keturunan Puang Tellue ri Borong Untia saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)

Tulisan Terkait:

Program Tonasa Bersahaja dan Keswadayaan Masyarakat

Sekilas Sejarah dan Budaya Biringere

Pada zaman kerajaan masih berlangsung, di wilayah Borong Untia pernah memerintah tri tunggal penguasa, yang dikenal dengan sebutan “Puang Tellue ri Borong Untia”, tiga bersaudara yang memerintah di satu wilayah yang berdaulat dan otonom. Wilayah kekuasaan kekaraengan adat Borong Untia ini tidak dipengaruhi Kekaraengan Pangkajene ataupun Kekaraengan Bungoro yang lebih terkenal sebagai wilayah adatgemeenschap dibawah Pemerintahan Hindia Belanda.

Tak banyak yang mengetahui Sejarah Borong Untia di Biringere dalam konteks sejarah kekaraengan (kekuasaan adat) di Kabupaten Pangkep, terlebih lagi  memang sangat kurang referensi tertulis dan penelitian sejarah mengenai Borong Untia sampai kemudian sebagian besar wilayah Borong Untia ditetapkan sebagai wilayah Pabrik Semen Tonasa II, III, IV dan V setelah Pabrik Semen Tonasa I dalam wilayah Kecamatan Balocci ditutup secara resmi oleh Pemerintah.

Kepala Desa, Andi Alam, LCO, Muhamamd Farid Wajdi, dan Keluarga keturunan Puang Tellue ri Borong Untia saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Unsur Muspida, Pimpinan DPRD Pangkep dan Anggota DPRD Sulsel, Direksi PT. Semen Tonasa, Tetua Adat Biringere  saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)

“Berubahnya Biringere menjadi wilayah industrialisasi yang dahulunya dikenal sebagai wilayah adat tidaklah boleh melupakan sejarah dan akar tradisi Biringere”, ungkap Simpuang Ago. Tokoh adat yang sudah memasuki usia 71 tahun ini mengurai perjalanan kehadiran PT. Semen Tonasa dalam wilayah Desa Biringere semakin hari semakin lebih baik.

“Kepedulian PT. Semen Tonasa dirasakan masyarakat Biringere semakin lama semakin lebih baik, bukan hanya dalam hal ketenagakerjaan dan perbaikan taraf kesejahteraan masyarakat, tapi juga perhatian dalam bidang budaya dan pelestarian seni tradisi semakin baik. Kami apresiasi dan berterima kasih untuk itu. Salah satunya lewat Pendirian Bangunan Sanggar Seni Budaya Turiolo dari dana CSR Perusahaan”, ujar Basri, SH, Sekretaris Forum Mitra Amanah (FITRAH) sebagai Forum Desa Multi Pihak yang mengelola Dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT. Semen Tonasa di Desa Biringere.

Kepala Desa, Andi Alam, LCO, Muhamamd Farid Wajdi, dan Keluarga keturunan Puang Tellue ri Borong Untia saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Direksi PT. Semen Tonasa saat sambutan peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Kepala Desa, Andi Alam, LCO, Muhamamd Farid Wajdi, dan Keluarga keturunan Puang Tellue ri Borong Untia saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Bupati Pangkep, H. Syamsuddin A.Hamid, SE  saat sambutan peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)

Pendirian Sanggar Seni “Budaya Turiolo”  lahir dari usulan Simpuang Ago dalam Musyawarah Forum Desa dan diakomodir  oleh Forum Desa Mitra Amanah Biringere dan selanjutnya menjadi salah satu kegiatan CSR PT. Semen Tonasa dengan anggaran sebesar 86 juta. Bangunan Sanggar Seni ini merupakan bangunan rumah kayu sebagaimana umumnya rumah adat Bugis Makassar, hanya saja arsitektur sedikit berbeda, terdiri atas satu ruang penyimpanan perlengkapan dan alat seni tradisional serta satu ruang pertemuan. Bangunan Sanggar Seni ini berdiri diatas lahan hibah seluas 9 x 6 meter dari Simpuang Ago sendiri.

Kini, Sanggar Seni ini sudah berdiri di Dusun Borong Untia Desa Biringere dan merupakan bangunan Sanggar Seni dengan arsitektur khas. “Arsitektur Bangunan Sanggar Seni ini mencerminkan jejak rekam kekuasaan “Puang Tellue ri Borong Untia”, dengan tiga tangga yang berdampingan pada bagian depannya dan bubungan atapnya juga bersusun tiga. Ruang pertemuan dalam Sanggar Seni dipenuhi dengan walasuji sebagai simbol bangunan rumah bangsawan tinggi,” jelasnya.

Kepala Desa, Andi Alam, LCO, Muhamamd Farid Wajdi, dan Keluarga keturunan Puang Tellue ri Borong Untia saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Suasana baruga  saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Kepala Desa, Andi Alam, LCO, Muhamamd Farid Wajdi, dan Keluarga keturunan Puang Tellue ri Borong Untia saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Hiburan tari-tarian  saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)

“Ke depan, kepedulian perusahaan terhadap budaya lokal Biringere tetap menjadi perhatian, termasuk pelestarian seni tradisi dan kearifan lokalnya. Apa lagi yang bisa dibanggakan dari Biringere kecuali budayanya. Budaya ini harus terus kita jaga bersama sebagai cerminan kepribadian masyarakat”, tambah Simpuang Ago yang berharap pelestarian seni tradisi dan kepedulian terhadap budaya lokal  ini tetap diprogramkan setiap tahun lewat dana CSR Perusahaan.

Beberapa kegiatan kesenian yang nantinya mewarnai Pelestarian Budaya Lokal di Biringere adalah Seni Mappadendang, Mangngaru, Tari Paduppa, Genrang atau Gendang, serta Seni Musik Gambus-Mandoling.  Sebagaimana diungkapkan Tokoh Adat Simpuang Ago, Kepala Desa Biringere, Andi Alam juga menegaskan bahwa kesenian tradisional masih lestari di wilayah pemerintahannya.

Kepala Desa, Andi Alam, LCO, Muhamamd Farid Wajdi, dan Keluarga keturunan Puang Tellue ri Borong Untia saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Para Tobarani saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Kepala Desa, Andi Alam, LCO, Muhamamd Farid Wajdi, dan Keluarga keturunan Puang Tellue ri Borong Untia saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)
Kallolona Borong Untia  saat peresmian sangar seni budaya turiolo di Biringere. (foto: ist/palontaraq)

Baca Juga:

               Baju Bodo dalam Pesta Adat Bugis Makassar

“Usai panen padi, biasanya masyarakat melaksanakan upacara adat Mappadendang (pesta panen padi), ada tradisi Angngaru atau Mangngaru (melakukan pernyataan sumpah setia kepada pemimpin) yang masih banyak masyarakatnya yang bisa melakukannya, ada Seni Tari  Paduppa sebagai  tari penyambutan tamu penting dan tamu kehormatan adat, ada Seni Musik Tradisional Genrang sebagai kesenian musik asli khas bugis Makassar, ada pula Seni Musik Gambus sebagai seni musik tradisional dengan nuansa  islami serta pesta budaya yang biasanya kita lakukan secara berkala. Ke depan, Seni Tradisional dan Budaya Lokal ini berpotensi sebagai obyek wisata budaya di Biringere yang bisa disinkronkan dengan wisata industri PT. Semen Tonasa. Kami dari pihak Pemerintah Desa siap juga berdampingan secara damai dan harmonis dengan pihak PT. Semen Tonasa selama industri ini berkembang dengan tetap memperhatikan budaya lokal dan kesejahteraan masyarakat setempat”, urai Andi Alam, Kepala Desa Biringere.

Keinginan untuk tetap mengembangkan lingkungannya sebagai masyarakat adat di tengah lingkungan industri yang mengelilinginya menjadi harapan Tokoh Adat Simpuang Ago, Forum Mitra Amanah dan Pemerintah Desa Biringere. “Harapan saya dan harapan masyarakat Desa Biringere pada umumnya untuk mengembalikan identitas lokal dengan pesona budaya khas yang ada di masyarakat. Dengan lestarinya budaya masyarakat setempat yang masih satu lingkungan dengan industri yang tumbuh dan berkembang, malahan hal ini bisa menjadi pembelajaran yang baik bahwa PT. Semen Tonasa adalah industri yang ramah lingkungan juga ramah budaya. Harapan kami PT. Semen Tonasa akan dicatat sebagai perusahaan yang bukan hanya peduli pelestarian lingkungan, tapi juga peduli pelestarian budaya”, harap Simpuang Ago.  (*)