JAKARTA,Palontaraq.com–Akademisi dan Pakar Filsafat, Rocky Gerung (RG), Jumat (1/2/2019) memenuhi Panggilan Penyidik Polda Metro Jaya terkait Pelaporan Sekjen Cyber Indonesia Jack Boyd Lapian terkait ucapannya bahwa ‘kitab suci itu fiksi’ dalam program ‘Indonesia Lawyers Club’ (ILC) yang ditayangkan di tvOne.

Jack melaporkan RG ke Bareskrim Polri dan kasus itu kemudian dilimpahkan ke Direktorat Reskrimsus Polda Metro Jaya. Laporan Jack diterima dengan tanda bukti laporan bernomor LP/512/IV/2018/Bareskrim tertanggal 16 April 2018. Rocky disangkakan melanggar Pasal 156a KUHP tentang Penistaan Agama. Sebelumnya, Jack sudah diperiksa sebagai saksi pelapor terkait kasus ini.

Pengacara RG, Haris Azhar, membeberkan hal baru terkait kasus ‘kitab suci fiksi’ yang menjerat kliennya. Haris menyebut pelapor tidak berada di lokasi saat Rocky mengucapkan hal ‘kitab suci fiksi‘. “Yang menarik ini laporannya. Pelapornya berbasis pada judul, bukan pada peristiwa,” kata Haris kepada Pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (1/2/2019).

Haris menyebut pelapor hanya melihat video di YouTube dan membuat laporan ke polisi. Hal itu diketahui dari penyidik. “Tadi ada beberapa yang kita tanya (ke penyidik Polda Metro) juga locus, ya kalau istilah hukum di mana tempat peristiwa. Ternyata bukan di alamat hotel ketika dialog itu dilakukan, tetapi di mana pelapor menonton YouTube,” kata Haris.

“Tadi misalnya kegiatan dilakukan di Hotel Borobudur itu dekat Lapangan Banteng, jalannya saya nggak tahu apa. Ternyata alamatnya di Cipete. Nah, kenapa alamatnya di Cipete? Ternyata di situlah si pelapor nonton YouTube-nya, di Cipete gitu,” sambungnya.

Rocky Gerung berlari-lari kecil meningalkan Mapolda Metro Jaya usai diperiksa terkait Pernyataannya 'Kitab Suci itu fiksi'. (foto: wartakota)
Rocky Gerung berlari-lari kecil meningalkan Mapolda Metro Jaya usai diperiksa terkait Pernyataannya ‘Kitab Suci itu fiksi’. (foto: wartakota)

Sementara itu, RG usai diperiksa penyidik Polda Metro Jaya dalam kasus ‘kitab suci itu fiksi’ mengungkapkan kalau dirinya dicecar dengan 20 pertanyaan dan dimintai keterangan terkait hubungan kitab suci dan agama. “Klarifikasi tentang pengetahuan saya hubungan misalnya kitab suci dan agama. Hal-hal standar yang mesti diterangkan sebagai keterangan hukum. Keterangan memperlihatkan pengetahuan saya tentang dua konsep itu, kita suci dan fiksi,” ujarnya.

Menurut RG, Pelapor gagal memahami tentang kata fiksi dan fiktif. “Upaya si pelapor itu gagal paham beda antara fiksi dan fiktif, padahal fiksi berkali-kali saya terangkan. Bahwa fiksi adalah suatu energi untuk mengaktifkan imajinasi. Dan itu penting dan baik, beda dengan fiktif yang cenderung mengada-ada. Itu intinya. Kedua, saya terangkan bahwa saya peneliti, pengajar, jadi saya memakai kata itu, termasuk kata kitab suci sebagai konsep dan itu konteksnya untuk mengajarkan dengan metode biasa disebut silogisme. Itu satu kasus yang harusnya harus disidangkan di ruang seminar gitu, bukan dilaporkan oleh yang bersangkutan,” jelasnya. (*)