DI KOTA Makassar, anak jalanan telah menjadi fragmen jalan raya. Mereka berbaur berbaur dengan para pengamen, pengemis, dan pengguna jalan lainnya. Potret anak jalanan menjadi satu fenomena yang menyedihkan, menjadi satu keniscayaan tersendiri sebagai konsekuensi pertumbuhan “Kota Daeng” yang dinamis, namun disisi lain tingkat kesenjangan sosial semakin tinggi. Dampaknya bisa menimbulkan keresahan sosial di tengah masyarakat.

Anak-anak jalanan memilih lingkungan hidup di jalanan terkadang bukan hanya faktor kondisi kesulitan ekonomi, namun karena mereka juga menikmati kondisi lingkungan di jalanan. Mereka yang orang tuanya datang dari kabupaten/kota di Sulawesi Selatan, entah karena dimutasi ke Makassar untuk jabatan yang lebih baik ataukah memang aslinya sebagai ‘petarung kehidupan’, mengadu nasib di Kota Makassar dengan resiko harus tinggal di pinggir kanal, bantaran sungai, pinggiran kota sambil menanti pekerjaan yang lebih layak.

Anak-anak jalanan tak selalu tidak punya tempat tinggal, bisa juga karena ditinggal orang tua bekerja. Disini lain, lebih banyak memang bergantung hidup kepada keluarganya yang lebih dahulu ‘bekerja’ di Makassar, namun ada pula yang memang tidak membawa apa-apa dari kampung, selain tekad untuk mengubah nasib lebih baik. Yang terakhir ini mereka umumnya hidup di pinggiran kota, selain lebih menemukan keakraban urban, juga lebih bertahan hidup dengan makanan yang murah meriah bisa didapat sesama mereka yang saling menjual kebutuhan yang diperlukan.

Adakah kemudian Anak-anak merasa stres dengan kondisi keluarga dan lingkungan rumahnya, sehingga merasa lebih nyaman di jalanan? Di lingkungan hidupnya, anak jalanan menemukan banyak aktifitas seperti mengamen, mengemis, dan lainnya. Mereka sebenarnya telah dirampas waktu bermainnya di sawah, kebun, empang, dan di mesjid sebagaimana keadaannya saat di kampung halaman. Namun, nasib yang ikut serta membawanya bersama orang tuanya membuatnya harus pula adaptif terhadap perubahan lingkungan, yang setiap saat menimbulkan wajah kejam karena keterdesakan pembangunan dan semakin tingginya biaya hidup.

Apa yang dicari oleh anak jalanan sebenarnya? Pertama, Keterdesakan kebutuhan ekonomi keluarga dan hidup yang serba tak pasti, mengharuskan mereka harus berjuang di jalan raya mencari uang untuk menghidupi dirinya dan membantu orangtuanya. Meski begitu, ada pula yang dieksploitasi untuk mengais rezeki di jalan. Anak-anak jalanan jenis ini akan merasa betah dijalan raya apabila mereka selalu menemukan rezeki yang banyak dari para pengguna jalan raya. Semakin tinggi intensitas kedermawanan pengguna jalan raya, maka anak jalanan jenis ini akan semakin betah di jalanan.

Kedua, Ini soal kebebasan hidup. Banyak anak-anak yang merasa kebebasan dirinya dikekang di keluarga maka mereka akan melarikan diri ke jalanan, berkumpul bersama teman sebayanya yang memiliki keinginan, hobi, dan ketertarikan yang sama. Hidup di jalanan dirasa lebih bebas, interaksi terbuka dengan teman sebayanya akan lebih memberikan arti hidup bagi orang-orang dengan pemikiran seperti ini.

Yang menjadi persoalan adalah saat interaksi para anak jalanan ini mengalami gesekan, terbentur berbagai permasalahan kepentingan hidup seperti soal makanan, perhatian, emosi dan lain sebagainya. Yang akan muncul adalah tindakan kejahatan sosial seperti tawuran, pencopetan yang meresahkan, jambret, dan hal-hal negatif lainnya yang mengganggu ketenangan kehidupan sosial.

Saat ini Anak-anak jalanan tak hanya di kota tapi juga sudah merambah ke berbagai kabupaten/kota kecil dan tentu perlu penanganan bagaimana cara mengatasi dampak negatif anak jalanan? Hal ini adalah tanggung jawab masyarakat secara umum. Pemerintah dalam hal ini pihak Dinas Sosial dan leading sektor yang terkait mengimplementasikan kebijakan yang tegas namun menyantuni anak jalanan.

Pelarangan anak-anak jalanan untuk beroperasi di jalan-jalan kota selamanya tidak akan diindahkan selama tidak ada pembinaan yang berarti. Pemerintah perlu melakukan upaya pembinaan terhadap anak jalanan. Mereka anak usia sekolah, jadi perlu disekolahkan. Mungkin tak selalu harus sekolah formal, tapi yang penting mereka ‘sekolah’. Mereka anak usia produktif, jadi perlu diberikan keterampilan dan kecakapan untuk bekerja dan berkarya. Mereka pun butuh sentuhan keagamaan, agar mereka mengakrabi ajaran agama, bisa mengaji, tahu etika, adab dan akhlak yang baik sebagai modal sosial diterima masyarakat.

Masyarakat harus melakukan apa untuk mengatasi dampak negatif atas keberadaan anak jalanan? Disinilah perlunya koordinasi dan sinergi upaya pembinaan anak jalanan baik oleh pemerintah maupun organisasi/komunitas non pemerintah. Jangan sampai, anak jalanan hanya dimanfaatkan oleh beberapa kelompok untuk kepentingan politik. Lebih dari itu anak jalanan merupakan permasalahan sosial yang menjadi tanggung jawab bersama untuk diselesaikan.

Jika pemerintah kerepotan, pemerintah bisa menawarkan kepada organisasi atau komunitas di luar pemerintah untuk melakukan pemberdayaan terhadap anak-anak jalanan. Mendidik jiwa anak-anak jalanan menjadi jiwa pewirausaha dan mandiri. Salah satu pembinaan yang cukup baik dilakukan untuk anak jalanan adalah dengan mengajak belajar, mengaji, termasuk mengajarkan kewirausahaan, tentang cara berbisnis kecil-kecilan. Upaya ini akan efektif membantu anak jalanan meninggalkan hal-hal negatif di jalanan sekaligus penghidupan keluarganya.(*)