Judul Buku: Pendidikan Islam-Kompilasi Pemikiran Pendidikan
Penulis: Dr. Adian Husaini
Penerbit: Yayasan Pendidikan Islam at-Taqwa Depok
ISBN: 978-602-19985-9-5
Cetakan: Kedua, Mei 2018

TIDAK bisa dipungkiri bahwa akar masalah dari berbagai krisis yang melanda negeri kita adalah ‘pendidikan’. Sebab, dari dunia pendidikan inilah dilahirkan para pemimpin, guru, pekerja, politisi, pengusaha, tentara, polisi, pejabat pemerintah, hakim, menteri, dan sebagainya. Demikianlah pendidikan sangat penting untuk selalu didudukkan sebagai pokok persoalan dan perbaikan suatu negeri.

Reformasi Pendidikan adalah sebuah keniscayaan, demikian Dr. Adian Husaini mewarnai pengantarnya dari Bukunya “Pendidikan Islam-Kompilasi Pemikiran Pendidikan” (335 halaman), sebagai suatu tawaran, alternatif, solusi, atau boleh pula dikatakan warna berbeda dari pemaknaan ulang tentang pendidikan yang melahirkan keadaban dan peradaban unggul.

Penulis bersama Dr. Adian Husaini. (foto: ist/palontaraq)
Penulis bersama Dr. Adian Husaini. (foto: ist/palontaraq)

Menurutnya, Reformasi Pendidikan perlu dilakukan karena adanya upaya menjauhkan agama dari negara, menghilangkan pendidikan agama, menghilangkan “nilai dan ajaran islam” dari proses pembelajaran, rendahnya adab dalam proses menuntut ilmu, kurangnya dialog intelektual, serta perlunya membentengi generasi muda dari paham dan ajaran sekularisme, liberalisme dan komunisme.

Konsep Pendidikan Berbasis Adab adalah tawaran yang membangkitkan optimisme sebagai modal pembangunan umat dan negara. Karena itu sangat perlu terus dilakukan kajian dan penelitian terkait Tujuan dan Kurikulum Pendidikan. Beratus tahun sebelum datangnya penjajah, bangsa Indonesia telah menerapkan sistem pendidikan beradab yang dikenal sebagai “Pesantren”. Ciri utamanya: keilmuan, pengamalan, dan keteladanan, diterapkan secara terpadu. Dalam buku “Pendidikan Islam-Kompilasi Pemikiran Pendidikan”, penjelasan mengenai hal ini dapat dibaca dari halaman 1-75.

Pada halaman Capita Selecta Pendidikan, Dr. Adian Husaini membahas tentang Kurikulum Taqwa untuk Indonesia 2045. Dengan mengacu kepada UUD 1945, Pasal 31 (c) yang mana menyebutkan bahwa, “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Jadi, sangat jelas bahwa pendidikan agama sebagai usaha meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia adalah bagian integral dari penyelenggaraan pendidikan nasional. Tidak boleh dinafikan, dikurangi, apalagi dihilangkan.

Dr. Adian Husaini usai memberikan kuliah pemikiran islam. (foto: ist/palontaraq)
Dr. Adian Husaini usai memberikan kuliah pemikiran islam. (foto: ist/palontaraq)

Bukan secara kebetulan para pendiri (The Founding Father) bangsa ini meletakkan Pancasila sebagai dasar negara yang juga merupakan Epistemologi Pendidikan, secara menyeluruh dan mendasar. Pancasila didorong untuk diamalkan dalam segala bidang kehidupan, termasuk dalam bidang pendidikan. Keseluruhan sila Pancasila sebenarnya merupakan islamic worldview, pandangan alam-Islam. Merujuk kepada Pancasila dan UUD 1945, sepatutnya Filsafat Ilmu yang dijadikan sebagai pijakan konsep pendidikan nasional harusnya bukan Filsafat Ilmu sekuler, yang mengabaikan atau mengecilkan konsep keilmuan berbasis wahyu (revealed knowledge).

Mendidik Adab dari Keluarga merupakan bagian penting dari Pendidikan Islam. Saking pentingnya hal ini, sehingga Dr. Adian Husaini juga menuliskan bagaimana Belajar Adab dari Kisah Luqman.  Ada banyak hal yang perlu tinjauan ulang terkait Adab ini, sehingga dipandang perlu untuk Reformasi Usia Pendidikan. Mantan Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) ini mengulas pula Mutiara Pendidikan dari Kitab Ayyuhal Walad, serta melampirkan pengalamannya saat Khutbah Jumat tentang Adab di Mahkamah Konstitusi (MK).

Dr. Adian Husaini usai memberikan kuliah pemikiran islam. (foto: ist/palontaraq)
Dr. Adian Husaini usai memberikan kuliah pemikiran islam. (foto: ist/palontaraq)

Dari halaman 76-318, Dr. Adian Husaini banyak memberikan perspektif baru, mengingatkan kembali pemikir dan intelektual muslim tentang Pesan Muhammad Natsir tentang Jiwa Bangsa, Nasehat dan Teladan Syekh Amin al-Hajj, serta urgesni Pengajaran Sejarah Sains di Indonesia. Tentang bagaimana pula Pesantren Tinggi Imam al-Ghazali serta Urgensi Pendidikan Ulama.

Pendidikan Islam akan selalu menjadi kajian menarik. Hanya saja saat ini banyak hal yang terlupakan dari sejarah bangsa, salah satunya Peran Ulama dalam Kemerdekaan dan Pembangunan. Begitu pula tentang Adab dalam Pendidikan Sains dan tentang Bagaimana menjadi Guru Beradab. Dr. Adian Husaini menuliskan pokok pikiran dan pengalamannya saat Seminar Integrasi Ilmu di IAIN Lampung serta pandangan KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdyatul Ulama tentang “Manusia Beradab.”

Dr. Adian Husaini usai memberikan kuliah pemikiran islam. (foto: ist/palontaraq)
Dr. Adian Husaini usai memberikan kuliah pemikiran islam. (foto: ist/palontaraq)

Bagaimana melahirkan generasi muda pejuang yang tangguh, kokoh dalam pemahaman dan pengamalan agama di satu sisi, di sisi lain kuat pula dalam pertahanan dan bela negara, Dr. Adian Husaini mencoba membuka tabir tentang bagaimana Pendidikan Sultan Muhammad al-Fatih. Penelitian dan Pengkajian tentang Kebijakan Pendidikan di Indonesia sebenarnya, menurut Pendiri Pondok Pesantren at-Taqwa, Depok ini adalah sebagai upaya menyambung Sejarah
dan melahirkan Generasi Gemilang. Simak pula kisah menarik yang dituliskan dalam Epilog, PRISTAC: Terobosan Baru Pendidikan Tingkat SMA, sungguh terobosan pendidikan yang mencerahkan. Selamat menikmati buku yang luar biasa ini. (*)