KABAR buruk datang dan menggangu kerja teman-teman jurnalis di tengah liputan bencana yang terjadi dimana-mana dan seperti tak ada habisnya. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) akan menggelar aksi di 34 kota menyikapi Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018 terkait keringanan hukuman I Nyoman Susrama, pelaku pembunuhan jurnalis Jawa Pos-Radar Bali, AA Gde Bagus Narendra Prabangsa.

Presiden Joko Widodo memberi remisi kepada Susrama, terpidana seumur hidup kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali, AA Gde bagus Narendra Prabangsa. Kecaman bukan hanya datang dari AJI Makassar, tapi juga AJI Denpasar dan daerah lainnya. “Kami akan menggelar aksi di 34 kota, AJI kota sudah kita kirim surat edaran, ada di Bandung, Jogja sudah mulai hari ini, sebagian besar digelar besok seperti di Jakarta, Makassar, Medan, Surabaya, Pontianak. Jadi di 34 AJI kota,” ujar Ketua Bidang Advokasi AJI Indonesia, Sasmito Madrim.

“Tujuan dilakukan aksi itu, untuk menuntut Jokowi menghapus remisi perubahan kepada otak pelaku pembunuhan Prabangsa. Sebab kebijakan Jokowi dinilai dapat mengancam kebebasan pers. Kami menuntut jokowi membatalkan atau mencabut remisi terhadap Susrama. Kalau sudah divonis seumur hidup kemudian dikurangi hukumannya jadi 20 tahun, kemudian bisa berpotensi bebas ini akan mengancam kebebasan pers. Orang tidak akan jera lagi mengancam wartawan,” tegas Sasmita.

Selain menggelar aksi, AJI tengah menyiapkan surat yang akan ditujukan langsung kepada Jokowi untuk secara tegas menghapus remisi terhadap Susrama. “AJI mau kirim surat ke istana mendesak Presiden untuk mencabut, kita lagi susun konsultasi kepada keluarga korban,” pungkas Sasmita. Hal senanda diungkapkan Ketua AJI Denpasar Nandhang R. Astika yang menilai pemberian remisi itu adalah langkah mundur terhadap penegakan kemerdekaan pers.

I Nyoman Susrama Radar Bali
I Nyoman Susrama (foto: Radar Bali)

“AJI Denpasar menuntut agar pemberian remisi kepada pembunuh AA Gde Bagus Narendra Prabangsa untuk dicabut,” kata Nandhang dalam keterangan tertulis, Selasa (22/1). Kasus pembunuhan jurnalis ini terjadi pada Februari 2009 silam. Nandhang mengatakan pengungkapan kasus pembunuhan wartawan di Bali pada saat itu menjadi tonggak penegakan kemerdekaan pers di Indonesia. Sebelumnya, kata Nandhang, tidak ada kasus kekerasan terhadap jurnalis yang diungkap secara tuntas di sejumlah daerah di Indonesia, apalagi dihukum berat.

Vonis seumur hidup bagi Susrama di Pengadilan Negeri Denpasar saat itu dinilai menjadi angin segar terhadap kemerdekaan pers dan penuntasan kasus kekerasan terhadap jurnalis di Indonesia yang masih banyak belum diungkap. Nandhang mengatakan AJI Denpasar bersama sejumlah advokat, dan aktivis yang dari awal ikut mengawal Polda Bali mengetahui benar susahnya mengungkap kasus tersebut. (*)