Pada masa Pemilu 1992 di kalangan aktivis mahasiswa yang anti Orde Baru beredar anekdot: Rakyat ingin Presiden baru karena Soeharto sudah terlalu lama menjadi Presiden. Ada 2 nama yang saat itu menguat dan didukung rakyat, yaitu: BJ Habibie dan Tri Sutrisno.

Soeharto merasakan keinginan rakyat tersebut. Tapi Soeharto juga berpikir keras bagaimana tetap dapat dipercaya kembali sebagai Presiden RI. Akhirnya Soeharto memanggil BJ Habibie dan Tri Sutrisno. Di hadapan mereka Soeharto berkata, “Saya siap digantiken sebagai Presiden oleh orang yang kuat agar Indonesia maju. Untuk bisa daripada menggantiken saya, diperluken 3 syarat,” tegas Soeharto.

“Pertama, pengganti saya harus dari Jawa”, kata Soeharto. Habibie yang merasa bukan orang Jawa, tahu diri dan keluar dari ruangan tanpa banyak bicara. Kemudian Soeharto melanjutkan, “Kedua, Presiden RI harus dari kalangan militer”. Tri Sutrisno berdebar menunggu syarat ketiga menjadi Presiden RI. Kemudian Soeharto melanjutkan, “Syarat ketiga menjadi Presiden RI harus yang pernah berpengalaman menjadi Presiden”.

Pada masa Orde Baru, kisah ini cuma fiksi untuk menggambarkan kuatnya Soeharto saat itu. Hal ini diceritakan oleh Letnan Jenderal Purnawirawan Suryo Prabowo di akun instagramnya. Bagaimana dalam konteks kekinian? Mantan Kepala Staf Umum (Kasum) TNI ini mengungkapkan, “Saat ini, pada Pilpres 2019 yang digadang sebagai Pilpres demokratis, kisah itu benar dan nyata. Jokowi menginginkan rakyat memilih Presiden yang berpengalaman sebagai Presiden. Jika Soeharto dituding otoriter, bagaimana dengan Jokowi?”, tanyanya. (*)