Kata “Sontoloyo” sejak 23 Oktober lalu tiba-tiba menjadi kosa-kata yang sering diperbincangkan dalam diskusi publik, khususnya terkait apa yang melatar-belakangi lahirnya ungkapan (umpatan) tersebut.  Ini terjadi setelah Presiden Joko Widodo menggunakan istilah ‘Politikus Sontoloyo’ saat acara pembagian 5.000 sertifikat lahan di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10/2018).

Presiden Joko Widodo mengaku jengkel terhadap politikus yang dianggapnya mengadu domba, fitnah, dan memecah belah untuk meraih kekuasaan. Alasan itu diungkapkan ulang Jokowi saat menerima pimpinan gereja dan Rektor/Pimpinan Perguruan Tinggi Kristen seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/10/2018). “Sebetulnya ini dimulai dari urusan politik, yang sebetulnya setiap lima tahun pasti ada. Dipakailah yang namanya cara-cara politik yang tidak beradab, yang tidak beretika, yang tidak bertata krama Indonesia. Cara-cara politik adu domba, cara-cara politik yang memfitnah, cara- cara politik yang memecah belah hanya untuk merebut sebuah kursi, sebuah kekuasaan, menghalalkan segala cara. Makanya saya sampaikan, politikus sontoloyo, ya itu, jengkel saya,” ujar Jokowi.

Sontoloyo, menghalangi jalan. (foto: civas.net)
Sontoloyo, bebek menghalangi jalan. (foto: civas.net)

Dari perspektif etika publik, apa yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo tersebut boleh jadi benar di satu sisi, ketika dia memberikan pemaknaan Sontoloyo, tapi disisi lain, masyarakat kemudian memberi nilai dan pemaknaan Sontoloyo itu dari sudut pandang siapa yang mengucapkannya. Karena umum terjadi di masyarakat, “maling teriak maling, koruptor teriak koruptor, orang yang paling brengsek sekalipun bisa juga menuduh orang lain lebih brengsek”. Masyarakat punya nilai sendiri dalam menanggapi ungkapan politisi atau pejabat publik, salah satunya dengan menyelidiki jejak rekam janji, kebijakan, serta apa yang telah diperbuatnya selama ini.

Sontoloyo sebenarnya adalah sebutan bagi pemilik pekerjaan sebagai pengembala Itik atau Bebek, disebut juga Tukang Angon Bebek di Pulau Jawa. Seorang sontoloyo biasanya mengembala beratus ekor bebek dengan cara berpindah mengikuti musim panen padi di daerah pesawahan untuk menggembalakan bebeknya. Konon profesi mengembala bebek dalam jumlah ratusan akan menyulitkan orang lain ketika rombongan bebek tersebut menyeberangi jalan, dan terkadang bebek tersebut ada yang memakan padi yang belum dipanen, sehingga orang lain yang tidak sabar akan mengumpat “Dasar Sontoloyo”.

Sebagai Presiden RI sekaligus petahana dalam Capres 2019, sangat penting sebenarnya bagi Jokowi menahan diri untuk tak mengeluarkan pernyataan seperti itu. Karena setiap pernyataan atau ungkapan seorang presiden akan memancing publik untuk meneliti dan menyelidiki kebenaran ucapannya.  Satu kali mengeluarkan pernyataan, yakin saja akan ada ratusan, ribuan, dan bahkan jutaan pernyataan balik. Pada akhirnya masyarakat dengan sendirinya akan tercerahkan, bahwa yang mengumpat tidak lebih baik daripada yang diumpat.

Setiap orang saat ini adalah pemegang kebenarannya sendiri dari informasi berlimpah yang diperolehnya di jagad maya. Internet begitu banyak merekam kejadian, janji, sumpah, serta kebijakan. Pro-kontra banyak, sudut pandang begitu banyak, dan kebenaran tidak lagi dapat disembunyikan untuk jangka waktu lama. Kebohongan demi kebohongan satu persatu akan terungkap dan pada akhirnya masyarakat akan tahu siapa yang lebih sontoloyo sebenarnya.

Cara-cara politik kotor hanya demi meraih kekuasaan baik di tingkat kota, kabupaten, provinsi, bahkan perebutan kursi presiden akan terungkap dari beragam media dan penyedia informasi. Pendapat publik tak lagi hanya dipengaruhi oleh media mainstream, tapi masyarakat sudah ikut terlibat melaporkan apa yang didengar, dilihat dan dirasakannya. Setiap orang saat ini sudah memiliki media sendiri. Jadi, jangan gampang menyebut sontoloyo atau mengumpat di depan publik, publik akan membalasnya dengan kebenaran yang lebih nyata.

Netizen akan melihat apakah tidak dzalim, seorang presiden yang sibuk berselfie ria di sawah, ketika produksi padi dan garam melimpah, sepulangnya malah melakukan impor beras dan garam secara membabi-buta. That’s Sontoloyo.  Pencitraan ke sawah namun pulang dari sawah beras diimpor.  Janji sudah tidak ketulungan banyaknya, termasuk terhadap korban gempa. Memberikan tabungan untuk korban gempa, tapi dananya ternyata tidak bisa ditarik oleh korban gempa. Lalu, meminta para korban berhutang ke Bank dulu. Apa itu tidak Sontoloyo namanya?

Sontoloyo adalah membuat iklan di bioskop, klaim pembangunan yang telah di hasilkan. Padahal, pembangunan itu adalah hasil pembangunan dari presiden sebelumnya. Apa itu tidak sontoloyo namanya? Begitu pula penggunaan mobil hoax Esemka sebagai bahan kampanye, setelah ketahuan bohong dan tetap tidak bisa dibuktikan bahwa sudah akan diproduksi sebelum akhir Oktober, lalu dikatakan mobil Esemka tidak ada urusan lagi sama saya lagi. Apa itu tidak sontoloyo namanya.

Pada akhirnya, kebenaran akan sampai ke telinga-telinga yang terbuka. Tentang siapa yang sontoloyo sebenarnya, masyarakat umumnya sudah tahu. Sontoloyo adalah tentang siapa saja yang  berbicara jangan pakai politik kebohongan, tapi dia sendiri kebohongannya tak terbantahkan. Tentang janji buy back Indosat dan puluhan janji lainnya yang mencederai hari nurani rakyat yang terjerembab dalam kesulitan pemenuhan kebutuhan pangan dan sandang, serta BBM yang melambung tinggi.

Sontoloyo adalah saat suka pamer ibadah shalat, rajin berkunjung ke pesantren namun saat Bendera Tauhid dibakar kau diam saja. That’s Sontoloyo. Katanya rindu ingin didemo, namun saat didemo berada di tempat lain.  Sontoloyo adalah saat Relawan asing dengan ikhlas membantu korban Palu tapi diusir dengan berbagai alasan. Pada saat yang sama Tenaga kerja Asing bebas keluar masuk.  Sontoloyo adalah ketika Ikan Sarden mengandung cacing berbahaya, malah dibilang berprotein. Apa itu semua bukan sontoloyo namanya.

Sontoloyo adalah saat harga daging mahal, malah rakyat disuruh makan keong.  Saat beras mahal, rakyat malah disuruh diet.  That’s Sontoloyo. Sontoloyo adalah teriak-teriak Pancasila, NKRI harga mati, tapi malah sibuk persekusi yang berseberangan.  Sontoloyo adalah saat bilang September ekonomi meroket , eh malah tekor dan hutang luar negeri semakin melambung tinggi tak terkendali.

Sontoloyo adalah membagikan traktor ke petani Ponorogo, tapi setelah acara, traktornya ditarik kembali. Traktor-traktor itu hanya pajangan untuk pencitraan.  Semakin banyak janji yang terumbar, semakin gesit pula masyarakat mencari kebenaran dari janji tersebut. Sontoloyo itu jika lain yang dijanji lain yang dikerja, padahal rakyat memilihnya karena janjinya itu.  Sontoloyo adalah saat mobil rasa Cina didaur ulang jadi mobil esemka dan diklaim sebagai produk nasional asli, padahal dalam negeri belum ada perusahaan onderdil dan mesin mobil. That’s Sontoloyo.

Untuk seorang sosok yang disanjung-sanjung oleh pendukungnya, apapun kesalahan dan kerugian besar yang telah ditimbulkan untuk rakyat, tetap saja dipertahankan. Saya pribadi, memakluminya karena memang sekarang sudah zaman sontoloyo, yang benar disalahkan, yang salah banyak dibenarkan. Semoga Tuhan mengampuni kita semua dan segera keluar dari zaman sontoloyo ini. Setidaknya, rakyat harus terus berusaha waras dan tidak ikut sontoloyo, sampai saatnya nanti ada kepemimpinan akal sehat.  Salam Palontaraq. (*)