A Poet about Tsunami
by: Marilyn Heavens
Tsunami came from nowhere,
Mother Nature called aloud,
Bringing with it only sin,
Bearing devastating sacrifice,
And death to all and kin.
Reality hit home within the first few hours,
As news came through the world soon new,
It seemed the earth had cracked in two,
Now our world is flawed with devastation,
Death, pain, and desolation.
We pray for those who died,
And feel for those in pain,
Our people’s lives were taken when that Mother came,
This Mother came from nowhere upon the highest wave,
Bringing in destruction, death, and devastation.
Loss, horror, and hopeless apprehension,
These words cannot portray our feeling of dismay,
Our minds in fear as we shed a tear
For those whose lost and those who suffer,
Awaiting news or searching through the thousands.
Undignified, coming to terms with loss of those who once loved but now no longer,
Mother Nature played her part so viciously,
Leaving just a simple question: Why?
Today I pray alone,
But I know I am not alone for the entire world will pray with me.

Beberapa hari yang lalu, Indonesia mengenang tahun ke-14 tsunami besar yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan negara-negara lain dan merenggut lebih dari 200.000 jiwa di seluruh dunia. Rasa sakit, penderitaan, kesengsaraan, pasti masih melekat pada mereka yang terpengaruh.

Tahun ini, serangkaian bencana besar melanda negara kita dengan sangat keras. Mulai dari gempa bumi di Lombok Nusa Tenggara Barat (NTB), pencairan tanah (likuifaksi) diikuti oleh tsunami di Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah, serta Tsunami baru-baru ini di Selat Sunda. Lebih dari 4.000 orang kehilangan nyawa sementara ratusan ribu lainnya masih bertahan hidup seadanya di tenda-tenda pengungsian.

Biarlah ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih bersyukur atas kehidupan yang telah kita terima. Kehidupan yang biasa kita terima begitu saja ketika setiap rutinitas sehari-hari menjadi begitu biasa. Kehidupan yang kita lupa untuk bagikan ketika kita hanya terlalu fokus pada diri kita sendiri. Kehidupan kita selalu mengeluh seolah-olah kita adalah yang paling menyedihkan di dunia. Biarkan ini menjadi pengingat bagi kita bahwa hidup adalah perjalanan bahwa dunia adalah tempat transit sementara bukan tujuan akhir. Karena pada akhirnya, kita milik Tuhan dan kita akan kembali. (*)