Fahri Hamzah memang layak dijuluki singa parlemen. Politisi yang sekarang ‘tanpa partai’ ini terus saja berkoar tentang kelompok-kelompok yang menyerang Prof Dr. Muhammad Amien Rais (MAR), sebagai bagian dari Oposisi. Dalam kultwit yang disampaikannya via Instagram dan Blog Pribadinya, pihaknya berjanji akan mengungkap siapa saja kelompok penyerang MAR.  Hal ini dikatakannya sebagai bagian dari pengungkapan kepentingan sejarah.

“Siapa mereka dan apa agenda mereka. Nanti saya akan hubungkan dengan gagalnya Habibie terpilih kembali dan juga Prabowo disingkirkan. Mereka satu aliran. Bersyukur kepada Allah SWT saya berkenalan dengan tokoh² besar ini dalam usia muda. Saya ke Jakarta tahun 1992 dan bertemu dengan mentor saya almarhum bapak Adi Sasono.
Ini pintu mengenal Elit Indonesia. Maka saya tahu sejarah kelompok mereka”, ungkapnya dalam Kultwit Wakil Ketua DPR RI ini.

Fahri Hamzah menuturkan dengan lugas bahwa dalam usia yang masih mudanya, ia sudah mengenal Prof Amien Rais sebagai sosok yang tidak ada duanya. “Pada waktu itu beliau adalah mercusuar intelektual Indonesia karena beliau yang paling berani. Beliau meminta pak Harto mengundurkan diri pada saat yang lain diam tidak berani. Dalam tampilan yang sederhana, Prof Amien Rais bersikap tentang perlunya suksesi. Pak Harto sudah terlalu lama.
Inilah yang memicu reformasi 1998. Dalam arus itu, pak Amien, Habibie dan Prabowo adalah kelompok reformis. Mereka, di tempat berbeda sadar dengan suara zaman”, tuturnya.

Singkat cerita, setelah pak Harto jatuh, dan Prof Amien Rais menjadi mercusuar di kalangan intelektual dan mahasiswa, orang-orang bertanya apa selanjutnya? Beliau ditarik di antara dua keinginan. BJ Habibie ingin beliau gabung dengan pemerintah tapi sebagian ingin di luar.

“Saya termasuk yang ditanya, saya tahu karena saya mendengar dari almarhum Adi Sasono bahwa BJ Habibie ingin sekali pak Prof Amien Rais memimpin DPA (Dewan Pertimbangan Agung) yang masih ada waktu itu. Ini juga mempersiapkan beliau menjadi pemimpin berikutnya pasca Orde Baru. Setelah diskusi panjang, Prof Amien Rais memutuskan untuk menjawab pak Habibie, “Pak Habibie, biarkan saya berada di luar sebagai tandingan pemerintah. Mari kita bertinju agar pemerintah ini sehat dan menjalani transisi secara baik”, ungkap Fahri Hamzah dengan lugas.

Saya tahu akibat keputusan Pak Prof Amien Rais ke dalam pemerintahan BJ Habibie. “Sebagian beranggapan, ini adalah adu domba. Seperti akhirnya pak Prabowo pun tersingkir dari samping Habibie. Bayangkan kalau mereka bersatu. Tapi itulah sejarah. Di sela Prof Amien Rais saya mengerti kelompok² yang memang tidak punya modal sebesar beliau. Tapi mereka punya jaringan. Mereka ini anti Habibie tetapi mereka memerlukan pak Amien untuk melawan Habibie. Mereka yang berbahagia karena pak Amien tidak mau gabung”, sambung politisi asal Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini.

Prof Amien Rais memang kemudian memilih  menjaga Demokrasi. Itu yang beliau lakukan sehingga mengawal konstitusi dalam 4 kali amandemen sebagai Ketua MPR. “Tapi, mereka punya maksud lain, Jangan sampai orang pintar yang tak bisa dipengaruhi memimpin negeri ini. Itulah agenda laten kelompok ini. Setelah berhasil menggagalkan konsolidasi kelompok yang punya akar, mereka putar haluan. Saya ingat, mereka gembira dengan periode pertama pak SB Yudhoyono karena cukup akomodatif. Tapi, begitu beliau mulai keras, serangan datang. Sekarang, musuh mereka bergabung. Tokoh seperti SB Yudhoyono, Prof Amien Rais dan Prabowo adalah mewakili kelompok yang tidak saja mengerti persoalan tetapi mengakar. Ini yang mereka takutkan. Karena mereka bisa kehilangan kendali kebijakan”, ungkap mantan Pendiri Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) ini di era awal Reformasi.

Menurutnya, Kelompok penyerang MAR ini gandrung mendukung orang lemah. Motifnya adalah mempengaruhi kebijakan dan mengambil bagian dalam kekuasaan. Banyak mau tanpa keringat, itulah cara mereka. Manuver dan politik elit, itu jalan mereka. Mereka benci partai politik maka mereka tidak suka dengan kader parpol. Mereka selalu ingin mendukung apa yang mereka sebut “kabinet profesional” yang mereka artikan kabinet tanpa kader partai. Sebab umumnya mereka tidak punya partai. Kalau mereka pernah berpartai, umumnya mereka ambil posisi di luar. Kalau ada manfaat mereka mengaku partai, kalau tidak ada manfaat mereka berada di luar. Mereka senang mengadu domba dan memanfaatkan orang bodoh dalam partai.

Tipe orang yang mereka serang dalam partai Islam itu tipe orang-orang yang disebut oleh mantan PM dan Ketua Umum Masyumi pak Natsir, “Islam beribadah, akan dibiarkan, Islam berekonomi, akan diawasi, Islam berpolitik, akan dicabut seakar-akarnya”. Mereka senang dengan orang Islam yang planga-plongo, apalagi kalau cacat moral dan banyak kasus, mereka biarkan. Tapi kalau orang bersih mereka benci betul. Setelah gagal hancurkan reputasinya mereka cari segenap cara untuk menyingkirkannya.

Apapun itu, Prof Amien Rais hari ini masih menjadi jangkar kekuatan politik Islam yang moderen dan rasional.
“Mereka tidak suka. Ini yang menggetarkan. Kita doakan pak Amin diberi kekuatan oleh Allah Tuhan YME agar terus bekerja. Beliau Prof Amien Rais adalah sisa kekuatan reformis yang bertahan. Mereka yang mendesain sistem reformis ini dari awal dan mereka yang akan menjaga dari segala pengkhianatan. Hari ini, ketika modal sudah terlalu dominan dalam politik. Semoga para penyerang Prof Amien Rais membangunkan kita semua, tentang pertaruhan berbahaya”, harap Fahri Hamzah.

Di akhir Kultwitnya, Fahri Hamzah membenarkan apa kata Prabowo tentang apakah kita akan tetap punya masa depan? Akan sangat tergantung pada hasil pilpres April 2019 nanti.  “Semoga Tuhan melindungi bangsa Indonesia. Aamiin”, tutupnya. (*)